Entah mengapa, hari ini setelah membaca-baca beberapa blog mengenai ‘living in a simple way,’ tiba-tiba timbul keinginan untuk menulis sesuatu mengenai ‘hidup sederhana.’ Dibalik kata ‘sederhana,’ sepertinya tersimpan makna tersembunyi yang mungkin terlewatkan oleh kita selama ini.

[ Arti kata ‘sederhana’ adalah: 1. bersahaja; tidak berlebih-lebihan; 2. sedang (dl arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dsb); 3. tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dsb); tidak banyak pernik; lugas. ]

Ditilik dari arti kata tersebut maka, sesuai dengan judul blog ini yaitu ‘Hidup Itu Sederhana.’ maka saya akan mencoba untuk berbagi perenungan saya mengenai bawah memang ‘Hidup Itu Sederhana.’

Sepertinya memang benar adanya bahwa hidup itu ‘memang sederhana.’ Hal yang paling esensial yang membuat kita bisa menjalani kehidupan hingga saat ini adalah suatu hal yang juga sederhana, yaitu ‘nafas.’ Iya, nafas memang sederhana. Bahkan sangat sederhana dan saking sederhananya maka kita seringkali tidak mempedulikan nafas kita sendiri. Setiap saat kita bernafas, setiap saat pulalah kita hidup dari nafas. Setiap saat itu juga seringkali kita memiliki mentalitas ‘take it for granted’ terhadap nafas kita. Setiap saat itu jugalah kita ‘take it for granted’ terhadap segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan. Dan mentalitas ‘take it for granted’ lah yang seringkali membuat kita lupa untuk bersyukur terhadap apapun pengalaman kehidupan yang pernah kita jalani termasuk juga yang sedang kita jalani saat ini.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?